“Aero Snap” di Compiz

UPDATE: Compiz yang terbaru sudah memiliki fitur ini secara default

Sebagai pecinta OS Linux, tentu tidak serta merta kita membenci produk Microsoft. Windows 7 misalnya, saya secara pribadi menyukai fitur Aero Snap pada Windows 7 (fitur yang sama pada desktop KDE, entah yang mana yang duluan). Aero Snap adalah fitur desktop yang membuat kita bisa me-maximize window bila kita drag ke atas layar, membaginya jadi setengah layar bila kita drag ke kiri atau ke kanan. Ingat? Saya suka fitur tersebut.

Sayang sekali, desktop saya menggunakan GNOME, dan tidak seperti KDE yang mendukung fitur tersebut. Akhirnya saya menemukan sebuah artikel di omgubuntu.co.uk yang menjelaskan bahwa GNOME (2.x) bisa melakukan Aero Snap dengan bantuan Compiz Fusion dan wmctrl. Berikut akan saya jelaskan caranya, OS yang saya gunakan berbasis Debian, sehingga ini berlaku juga untuk Ubuntu, Linux Mint, dan OS berbasis Debian atau Ubuntu lainnya yang menggunakan GNOME versi 2.x.

Aero Snap di Linux Mint Debian

Drag satu window ke kiri, Snap! Window lainnya ke kanan, Snap! Terkadang bisa sangat membantu pekerjaan.

Continue reading

Advertisements

Crunchbang 10 Statler XFCE Review

Pernah Anda terjebak harus menggunakan komputer dengan spesifikasi rendah? Pastinya komputer tersebut terinstall Windows XP dan ketika membuka Firefox dengan 4 tab saja semuanya jadi slow motion dan bikin frustasi. Saya pernah, dan saya menulis ini dari sebuah laptop tua dengan RAM 512 MB saja, prosesor Intel Centrino jadul dan pernak-pernik retro lainnya.

Tapi saya tidak menerima keadaan itu, saya keluar dari jendela dan merasakan kebebasan yang ditawarkan oleh Linux. Ini semua tentang sebuah distro yang tergolong lightweight bernama Crunchbang Linux. Crunchbang awalnya menawarkan desktop dengan Openbox yang sangat ringan, namun kurang user friendly bahkan bagi pengguna Linux yang sudah cukup lama. Karena khawatir akan menghabiskan waktu mengutak-atik Openbox agar menjadi nyaman, saya lebih memilih versi XFCE. Crunchbang 10 Statler XFCE.

Mengejutkan, distro dengan desktop XFCE yang satu ini lebih ringan dari perkiraan saya. Kalau Xubuntu 10.10 yang pernah saya install dulu memakan RAM 150-200 MB ketika baru dinyalakan, yang satu ini hanya 60-80 MB saja dengan conky yang sudah terpasang dari sananya. Berikut screenshotnya, tampilan tema bukan default.

screenshot1-statler-standby

Bagian kanan atas gambar, conky menunjukan hematnya distro ini menggunakan RAM

Dan bukti kekuatannya, ketika saya buka Firefox 4 dengan 3 tab (salah satunya streaming video Youtube), membuat gambar di GIMP, menonton film dengan VLC, RAM masih menunjukan angka 256 MB dan semuanya berjalan mulus. Ini screenshotnya lagi.

screenshot2-statler

Masih lancar

Beberapa hal dan ciri khas yang perlu diingat dari Crunchbang 10 Statler XFCE ini adalah:

1. Masih bukan distro Linux terringan, tapi mungkin distro dengan XFCE terringan.

1,5. Tidak ajaib. Jangan harap mentang-mentang distro ringan kita jadi bisa video editing durasi panjang atau main game setara World of Warcraft dengan komputer spek rendah.

2. Fitur lengkap seperti distro XFCE lainnya. Seperti yang sudah umum diketahui, XFCE juga bisa menjalankan aplikasi-aplikasi GNOME secara default.

3.  Berbasis pada Debian Testing (rolling release, repository sangat lengkap, tidak kompatibel penuh dengan  PPA).

4. Tidak ada tombol menu secara default (bisa ditambahkan). Sebagai gantinya, tekan shortcut yang telah tersedia atau klik-kananlah pada desktop untuk akses semua aplikasi.

5. Tidak direkomendasikan untuk orang yang pertama kali menggunakan Linux.

6. Download di sini. Sekali lagi, ada versi Openbox yang lebih ringan dari ini dan sama-sama berbasis pada Debian Testing, tapi saya secara pribadi merekomendasikan versi XFCE.

7. Minimal dan minimalis, tapi tetap fungsional. Itu idenya menurut saya.

Tertarik? Silahkan luangkan waktu dan install pada komputer Anda dengan cara yang kurang lebih sama seperti distro linux lain. Di komputer lambat saja lancar, apalagi di komputer Anda, pasti was wes wos :D .

Jangan Tunggu Baterainya Kosong, Isi!

Kita semua pernah dengar bagaimana cara yang baik untuk menjaga usia baterai laptop dan ponsel kita. Tapi pernah terpikirkankah bahwa sebagian dari apa yang kita percaya tentang itu adalah mitos?

Sebuah artikel menarik, Avoid Frequent Discharges to Extend Your Phone or Laptop’s Battery Life, dari Lifehacker menjelaskan bahwa depth of discharge (seberapa banyak kita menguras baterai setelah di-charge) pada baterai Li-Ion, berbanding terbalik dengan usia baterai.

Sebagai gambaran, (sebagian dari) kita sering beranggapan bahwa harus menggunakan baterai dari kondisi penuh sampai benar-benar habis sebelum akhirnya di-charge. Di sinilah letak kesalahpahaman kita. Karena hal tersebut justru memperpendek usia baterai akibat dari depth of discharge.

Oleh karena itu sebaiknya kita mengisi baterai sesering mungkin, kecuali jika memang sudah penuh atau sedang dipakai. Mulai sekarang isi baterai ponsel atau laptop kita tiap ada kesempatan, jangan tunggu kosong! :) .

Linux Kepala Dua

Ini bukan tentang distro Linux dengan maskot makhluk berkepala dua, tapi ini tentang Linux yang akan menginjak 20 tahun pada tahun 2011 ini.

Siapa yang tidak tahu Linux sekarang? Banyak! Linux digunakan di mana-mana, mulai dari server, superkomputer, desktop biasa, perangkat elektronik rumahan, desktop, dan yang sedang naik daun sekarang, ponsel Android. Dibalik kesuksesan itu semua, terdapat sejarah yang bisa kita lihat dalam video singkat menarik berikut ini.

Video ini diupload oleh The Linux Foundation sebagai salah satu ucapan selamat datang pada pecinta Linux yang akan merayakan hari kelahiran Linux pada bulan Agustus nanti.

An Open Note

Tiba-tiba terbangun di malam hari dan membuat blog baru. Inspirasi sulit datang pada saya, dan ketika dia datang, jelas tak ingin saya sia-siakan.

Membaca. Sebuah kegiatan super manfaat yang baru saya sadari. Belakangan ini saya hobi membaca dan saya tak ingin kehilangan itu. Mungkin Anda sudah paham betul manfaatnya membaca, lebih dari saya. Ini jelas-jelas bukan hal baru, tapi ini baru buat saya. Karenanya saya merasa perlu untuk mencatat apa yang saya baca dan saya kira menarik, agar informasi yang saya dapatkan lebih terserap dengan baik. Intinya, sebenarnya ini hanyalah buku catatan saya yang awalnya untuk keuntungan saya sendiri.

Di sinilah saya akan mencatat. Dan saya akan membiarkan catatan saya ini terbuka, dibaca, disalin atau disebarluaskan (kecuali untuk tujuan komersial), dengan harapan orang-orang bisa ikut mengambil manfaat yang telah saya dapatkan.