Crunchbang 10 Statler XFCE Review

Pernah Anda terjebak harus menggunakan komputer dengan spesifikasi rendah? Pastinya komputer tersebut terinstall Windows XP dan ketika membuka Firefox dengan 4 tab saja semuanya jadi slow motion dan bikin frustasi. Saya pernah, dan saya menulis ini dari sebuah laptop tua dengan RAM 512 MB saja, prosesor Intel Centrino jadul dan pernak-pernik retro lainnya.

Tapi saya tidak menerima keadaan itu, saya keluar dari jendela dan merasakan kebebasan yang ditawarkan oleh Linux. Ini semua tentang sebuah distro yang tergolong lightweight bernama Crunchbang Linux. Crunchbang awalnya menawarkan desktop dengan Openbox yang sangat ringan, namun kurang user friendly bahkan bagi pengguna Linux yang sudah cukup lama. Karena khawatir akan menghabiskan waktu mengutak-atik Openbox agar menjadi nyaman, saya lebih memilih versi XFCE. Crunchbang 10 Statler XFCE.

Mengejutkan, distro dengan desktop XFCE yang satu ini lebih ringan dari perkiraan saya. Kalau Xubuntu 10.10 yang pernah saya install dulu memakan RAM 150-200 MB ketika baru dinyalakan, yang satu ini hanya 60-80 MB saja dengan conky yang sudah terpasang dari sananya. Berikut screenshotnya, tampilan tema bukan default.

screenshot1-statler-standby

Bagian kanan atas gambar, conky menunjukan hematnya distro ini menggunakan RAM

Dan bukti kekuatannya, ketika saya buka Firefox 4 dengan 3 tab (salah satunya streaming video Youtube), membuat gambar di GIMP, menonton film dengan VLC, RAM masih menunjukan angka 256 MB dan semuanya berjalan mulus. Ini screenshotnya lagi.

screenshot2-statler

Masih lancar

Beberapa hal dan ciri khas yang perlu diingat dari Crunchbang 10 Statler XFCE ini adalah:

1. Masih bukan distro Linux terringan, tapi mungkin distro dengan XFCE terringan.

1,5. Tidak ajaib. Jangan harap mentang-mentang distro ringan kita jadi bisa video editing durasi panjang atau main game setara World of Warcraft dengan komputer spek rendah.

2. Fitur lengkap seperti distro XFCE lainnya. Seperti yang sudah umum diketahui, XFCE juga bisa menjalankan aplikasi-aplikasi GNOME secara default.

3.  Berbasis pada Debian Testing (rolling release, repository sangat lengkap, tidak kompatibel penuh dengan  PPA).

4. Tidak ada tombol menu secara default (bisa ditambahkan). Sebagai gantinya, tekan shortcut yang telah tersedia atau klik-kananlah pada desktop untuk akses semua aplikasi.

5. Tidak direkomendasikan untuk orang yang pertama kali menggunakan Linux.

6. Download di sini. Sekali lagi, ada versi Openbox yang lebih ringan dari ini dan sama-sama berbasis pada Debian Testing, tapi saya secara pribadi merekomendasikan versi XFCE.

7. Minimal dan minimalis, tapi tetap fungsional. Itu idenya menurut saya.

Tertarik? Silahkan luangkan waktu dan install pada komputer Anda dengan cara yang kurang lebih sama seperti distro linux lain. Di komputer lambat saja lancar, apalagi di komputer Anda, pasti was wes wos :D .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s